BAB I

|
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 23 views
of 5

Please download to get full document.

View again

Description
dvsdgsdg
Share
Transcript
  BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversible dan pada sauatu derajat tertentu memerlukan terapi pengganti ginjal yang teta berupa dialysis atau transplantasi ginjal (Sudoyo, 2009). Gagal ginjal merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia, retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Smeltzer, 2008). Menurut data dari United State Renal Data System  (USRDS) (2013) menunjukkan bahwa  jumlah kasus end stage renal disease  (ESRD) pada tahun 2013 adalah 117.162 dimana tingkat kejadian 363 juta per tahun. Ukuran populasi insiden dialisis (hemodialisis peritoneal) meningkat 1,9% pada tahun 2012-2013, mencapai 113.944 dan sekarang 24% lebih besar dari tahun 2000. Pada tahun 2013 di Indonesia terdapat 15.128 pasien baru yang menjalani hemodialisis dan pada tahun 2014 terjadi peningkatan pasien yang menjalani hemodialisis sekitar 2.065 sehingga secara keseluruhan terdapat 17.193 pasien yang baru menjalani hemodialisis sampai akhir tahun 2014 pada 358 unit hemodialisis di Indonesia (  Indonesian  Renal Registry  (IRR), 2014). Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 prevalensi penyakit gagal ginjal kronik di Riau sebesar 0,1 %. Pada penderita gagal ginjal tubuh dapat mengalami pembengkakan karena penumpukan cairan, sesak nafas dan bertambahnya berat badan sehingga diperlukan terapi pengganti ginjal yaitu dialisa dan transplantasi ginjal. Dialisa dapat dilakukan melalui peritoneal dialisa (CAPD) dan hemodialisa. Hemodialisa adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk  menyaring darah dan membuang kelebihan cairan didalam tubuh sehingga menggantikan fungsi ginjal sebagian saja (Kresnawan, 2007). Pada penderita yang menjalani terapi hemodialisa umumnya mengeluh mengalami mulut kering (xerostomia). Keadaan mulut kering disebabkan sekresi saliva yang berkurang karena  pembatasan asupan cairan yang dianjurkan pada penderita hemodialisa agar terhindar dari  berbagai gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan dapat timbul karena pada dasarnya tindakan pengganti tugas ginjal tidak sepenuhnya dapat mengambil alih kerja ginjal sehingga dibutuhkan tindakan pendukung untuk mencegah kelebihan cairan yang beresiko menyebabkan penderita mengalami penambahan berat badan, edema, peningkatan tekanan darah, sesak nafas dan gangguan jantung (Pray, 2005). Masalah perubahan pada mukosa mulut masih kurang menjadi perhatian sehingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak memerlukan tindakan khusus, padahal apabila masalah mulut kering tidak diatasi dengan baik dapat mengakibatkan rasa ketidaknyamanan  pada rongga mulut, nyeri, peningkatan caries gigi, infeksi mulut, kesulitan berbiacara dan menelan makanan sehingga penurunan kualitas hidup akibat tidak cukupnya asupan nutrisi (Kring dan Crane, 2009). Medikasi dan stress yang dialami pada penderita hemodialisa juga dapat mempengaruhi produksi saliva yaitu meniru aksi atau dengan mengubah cairan dan elektrolit secara langsung mengubah produksi saliva (Waugh dan Grant, 2005). Pembatasan cairan sulit dilakukan oleh pasien karena dalam kondisi normal manusia tidak dapat bertahan lama tanpa asupan cairan dibandingkan dengan makanan (Potter dan Pery, 2008). Maka salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sekresi saliva dengan cara mengonsumsi makanan yang membutuhkan pengunyahan yang banyak. Peningkatan sekresi saliva dapat dilakukan dengan mengunyah makanan seperti permen  karet. Permen karet dapat menggerakkan reflek saliva dengan menstimulasi reseptor yang dipantau oleh nervus trigeminus (N V) dan nervus fasialis (N VII) sebagai pengecap. Stimulasi saraf parasimpatis akan mempercepat sekresi pada semua kelenjar saliva sehingga menghasilkan produksi saliva dalam jumlah banyak (Christoper, 2010). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Barorotul (2013), terhadap 14 responden di Unit Hemodialisa RSUD Ungaran didapatkan ada pengaruh mengunyah permen karet xylitol terhadap perubahan rasa haus pada pasien CKD ( α < 0,05 ), hal ini sependapat dengan  penelitian yang dilakukan oleh Yahrini (2009) terhadap 40 responden di unit hemodialisa RSUD Kota Langsa didapatkan ada pengaruh mengunyah permen karet rendah gula terhadap  peningkatan sekresi saliva ( α < 0,05 ) karena keuntungan utama mengunyah permen karet terjadi dari proses mastikasi dan rasa permen karet yang telah terurai dalam mulut. Hasil kedua penelitian diatas dapat diketahui bahwa data yang mencatat tentang kuantitas saliva yang dihasilkan pasien hemodialisa sangat jarang, sebelum dan sesudah mendapat tindakan mengunyah permen karet. Berdasarkan data tersebut maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang pengaruh mengunyah permen karet rendah gula terhadap  peningkatan sekresi saliva pada pasien yang menjalani hemodialisa. B.   Rumusan Masalah Pada pasien yang menjalani hemodialisa dapat mengalami mulut kering (xerostomia). Masalah perubahan mukosa pada mulut seringkali tidak diatasi dengan baik sehingga dapat mengakibatkan rasa ketidaknyamanan pada rongga mulut. Pembatasan cairan sulit dilakukan oleh pasien karena dalam kondisi normal manusia tidak dapat bertahan lama tanpa asupan cairan dibandingkan dengan makanan (Potter dan Pery, 2008). Maka salah satu tindakan yang dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi makanan yang membutuhkan pengunyahan  yang banyak seperti permen karet rendah gula. Permen karet dapat menggerakkan reflek saliva dengan menstimulasi reseptor yang dipantau oleh nervus trigeminus (N V) dan nervus fasialis (N VII) sebagai pengecap. Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh mengunyah permen karet rendah gula terhadap peningkatan sekresi saliva pada pasien yang menjalani hemodialisa ”   C.   Tujuan Penelitian 1.   Tujuan Umum Mengidentifikasi pengaruh mengunyah permen karet rendah gula terhadap  peningkatan sekresi saliva pada pasien yang menjalani hemodialisa 2.   Tujuan Khusus a.   Mengidentifikasi karakteristik pasien hemodialisa (usia, jenis kelamin, lama menjalani hemodialisa dan jumlah hemodialisa per minggu).  b.   Mengidentifikasi sekresi saliva sebelum dan sesudah tanpa tindakan mengunyah  permen karet rendah gula pada kelompok kontrol. c.   Mengidentifikasi sekresi saliva sebelum dan sesudah tanpa tindakan mengunyah  permen karet rendah gula pada kelompok eksperimen. d.   Mengidentifikasi perbedaan sekresi saliva sebelum dan sesudah tanpa tindakan mengunyah permen karet rendah gula pada kelompok kontrol . e.   Mengidentifikasi perbedaan sekresi saliva sebelum dan sesudah tanpa tindakan mengunyah permen karet rendah gula pada kelompok eksperimen. f.   Mengidentifikasi perbandingan sekresi saliva sebelum tindakan mengunyah permen karet rendah gula pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks